Suka Makan Enak, Awas Kanker Usus Besar!

March 17th, 2010

JAKARTA, KOMPAS.com – Hobi menyantap gule kambing, soto babat, daging empal, atau steak, bukan cuma membuat tubuh makin melar, tapi juga mengundang risiko mengidap kanker saluran cerna (kolorektal). Ayo, perbanyaklah makan makanan berserat dalam menu sehari-hari.

Kanker kolorektal adalah kanker yang tumbuh di daerah usus besar (kolon) dan anus (rektum). Kanker ini merupakan jenis kanker yang paling dipengaruhi oleh gaya hidup, yakni asupan makanan yang tinggi lemak dan protein serta rendah serat.

“Berdasarkan penelitian, ternyata di Indonesia, faktor makanan (tinggi lemak, zat pengawet, dan infeksi) menjadi penyebab utama kanker di banding rokok,” papar Dr.dr.Aru W.Sudono, Sp.PD, KHOM, pakar kanker dari FKUI/RSCM dalam acara media edukasi memperingati Bulan Kanker Kolorektal yang diadakan oleh Yayasan Kanker Indonesia, di Jakarta (17/3).

Paparan zat karsinogenik yang masuk lewat makanan, menjadi salah satu penyebab utama kanker kolorektal. “Asam lemak dari makanan tinggi lemak jenuh, cairan empedu, zat pengawet makanan, serta zat karsinogenik yang terkandung dalam daging yang dimasak dengan suhu tinggi harus diwaspadai,” kata dr.Aru.

Melalui berbagai penelitian epidemiologis, telah dibuktikan peran serat yang sangat penting bagi pemeliharaan kesehatan, pencegahan penyakit, dan komponen penting dalam terapi gizi. Kecukupan konsumsi serat pangan dari sayur dan buah pada pola makan sehari-hari dapat mengurangi risiko kanker usus hingga 40 persen.

Adanya serat pangan yang mampu mengikat air akan menyebabkan konsistensi feses menjadi lebih lunak dan lembut, sehingga memudahkan otot usus besar memompa kotoran (feses) keluar. Kondisi ini akan mengurangi kontak dinding usus dengan zat karsinogenik makin singkat sehingga tidak sempat mengubah sel menjadi ganas.

Faktor risiko lain yang meningkatkan risiko kanker kolorektal adalah usia lanjut (di atas 50 tahun), polip di usus, faktor genetik, obesitas, serta jarang melakukan aktifitas fisik.

Menurut data WHO, diperkirakan 700.00 ribu orang meninggal karena kanker kolorektal setiap tahunnya. Ini berarti 2.000 orang meninggal setiap harinya. Di Amerika dan Eropa, kanker kolorektal lebih banyak diderita orang lanjut usia. Namun di Indonesia, prevelansi orang muda yang terkena kanker ini lebih besar (lebih dari 30 persen).

“Makin membaiknya ekonomi membuat kita lebih sering makan enak yang tinggi lemak, sementara itu aktivitas fisik kita berkurang,” jelas dokter yang menjabat sebagai Ketua Umum Perhimpunan Ahli Penyakit Dalam Indonesia ini.

Untuk menghambat pertumbuhan kanker, ada beberapa makanan yang memiliki zat anti kanker, misalnya saja diet tinggi serat, teh hijau, serat, asam folat, vitamin D dan kalsium, vitamin C dari makanan, serta aspirin.

“Kanker kolorektal adalah kanker yang perjalanannya lambat. Karena itu kanker ini masih bisa dicegah dengan memperbaiki pola makan. Dengan begitu kita akan terhindar dari biaya kemoterapi yang mahal itu,” tegas dr.Aru.

Kebutuhan tubuh akan serat pangan bisa didapat dari beragam sumber, seperti padi-padian, kacang-kacangan, sayuran, dan buah-buahan. Konsumsi daging merah dapat diganti dengan daging putih seperti ikan atau daging ayam.

Periksa Kotoran Cegah Kanker Kolorektal

March 17th, 2010

Kompas.com – Jangan anggap sepele munculnya bercak darah dalam feses saat buang air besar, demikian juga dengan perubahan pola konsistensi tinja dari keras menjadi encer yang diikuti dengan rasa sakit di perut. Boleh jadi ini merupakan gejala dari kanker kolorektal.

“Normalnya tidak boleh ada darah dalam tinja. Begitu ditemukan ada darah, kita harus waspada. Ingatkan dokter untuk melakukan pemeriksaan,” papar Dr.dr.Aru W Sudono, Sp.PD, KHOM, pakar kanker dari FKUI/RSCM Jakarta.

Meski sebagian besar pemeriksaan menunjukkan darah dalam tinja merupakan tanda hemoroid (wasir), namun tidak ada salahnya melakukan pemeriksaan colok dubur. “Lebih baik waspada tapi terhindar dari kemoterapi yang mahal dan menguras fisik dan psikis,” kata dr.Aru.

Gejala kanker kolorektal antara lain perubahan kebiasaan pada buang air besar (BAB), yang meliputi frekuensi dan konsistensi tanpa sebab yang jelas dan berlangsung lebih dari enam minggu, terdapat darah dalam tinja, nyeri perut di bagian belakang, penurunan berat badan, dan rasa penuh meski sudah BAB.

Pemeriksaan yang dapat dilakukan untuk mendiagnosis penyakit kanker ini adalah pemeriksaan klinis (riwayat penyakit dan pemeriksaan fisik), pemeriksan rektal dengan jari, serta pemeriksan laboratorium (memeriksa tinja) dan kolonoskopi.

Pemeriksaan kolonoskopi dilakukan dengan memasukkan pipa lentur yang dilengkapi kamera dan jarum biopsi ke dalam rektum untuk melihat selaput lendir usus besar. “Bagian yang mencurigakan, misalnya polip, akan diambil dan dibiopsi,” papar dr.Aru. Pengambilan polip akan mencegah kanker berkembang.

Menurut pengakuan dr.Aru, ia sendiri pernah melakukan pemeriksaan kolonoskopi dan ditemukan adanya polip. “Waktu itu diketahui kalau polip itu sudah tahap pra-kanker. Bila tidak ditemukan, mungkin dalam dua atau tiga tahun sudah berkembang jadi kanker,” ujarnya.

Kanker kolon merupakan penyakit yang perjalanannya lambat, karena itu masyarakat dianjurkan untuk melakukan deteksi dini, khususnya pada kelompok risiko tinggi, misalnya berusia lebih dari 50 tahun dan memiliki riwayat keluarga menderita kanker. “Di usia 50-an, biasanya mulai muncul tanda-tanda kanker,” jelas dr.Aru.

Bila kanker ditemukan dalam stadium satu, dalam lima tahun risiko pasien untuk bertahan hidup mencapai 90 persen. Sedangkan pada stadium lanjut (stadium 4), kemungkinan untuk hidup tinggal lima persen. “Kebanyakan pasien di Indonesia baru datang saat stadium tiga yang angka survivalnya sekitar 30-60 persen,” katanya.

Antidepresan Sebabkan Katarak?

March 17th, 2010

JAKARTA, KOMPAS.com – Obat antidepresan golongan SSRI (selective serotonin reuptake inhibitor) ternyata meningkatkan risiko katarak hingga 15 persen, khususnya pada pasien lanjut usia. Meski tidak menyebutkan hubungan sebab akibat, namun studi teranyar menemukan tingginya kasus katarak pada pengguna antidepresan.

Penelitian dilakukan dengan menganalisa data yang dikumpulkan dari 18.784 pasien katarak dan 187.840 pasien sebagai pembanding, antara tahun 1995 dan 2004. Seluruh responden yang rata-rata berusia 73 tahun ini memiliki penyakit jantung dan menjalani terapi untuk penyumbatan pembuluh darah.

Hanya pasien yang saat ini sedang mengonsumsi antidepresan, bukan yang pernah mengonsumsi dan saat ini berhenti, mengalami kejadian katarak lebih tinggi. Sekitar 8,5 persen pasien katarak dalam penelitian ini mengonsumsi antidepresan SSRI.

Antidepresan SSRI bekerja dengan cara melepaskan sejumlah serotonin di otak. Para ahli mencatata, bagian lensa mata memiliki reseptor serotonin yang mengaktifkan fungsi selular.

Studi pada hewan percobaan menunjukkan serotonin bisa membuat lensa mata menjadi kabur dan memicu timbulnya katarak. Selain antidepresan SSRI, beberapa studi menemukan bahwa obat steroid yang diminum atau dihirup serta beta-blocker juga menyebabkan katarak.

9 Tip Agar Tidur Lebih Nyenyak

March 17th, 2010

JAKARTA, KOMPAS.com – “Tidur nyenyak adalah dasar yang kuat untuk kesehatan mental dan fisik,” kata David Simon, MD, Direktur Medis The Chopra Center di Carlsbad, California, AS. Sel-sel tubuh kita membutuhkan istirahat untuk berfungsi optimal.

Sayangnya, jutaan orang menderita insomnia sehingga kelelahan, kurang awas mental, dan lemah secara fisik. Untuk menikmati tidur nyenyak, ikuti tip ini:

1. Jangan makan malam terlalu kenyang
Usahakan makan malam di bawah pukul 19.00 sehingga Anda tidak tidur dalam keadaan perut penuh.

2. Kurangi kegiatan yang menyita mental setelah pukul 20.30

3. Matikan lampu mulai pukul 22.30
Jika belum terbiasa tidur pada jam ini, majukan waktu tidur setengah jam lebih awal setiap minggu sampai akhirnya Anda biasa tidur pukul 22.30

4. Mandi air panas sejam sebelum tidur
Teteskan minyak esensial lavender, vanila, atau cendana ke dalam air mandi untuk membuat Anda lebih rileks. Redupkan lampu dan pasang terapi aroma. Jika memungkinkan, dengarkan musik yang lembut dan menenangkan.

5. Minum air hangat
Bisa berupa susu atau teh chamomile.

6. Menulis buku harian
Sesaat sebelum tidur, download isi pikiran Anda yang begitu aktif ke dalam buku harian, sehingga kepala Anda tidak terlalu penuh lagi.

7. Baca buku
Jangan pilih novel dramatis atau bacaan yang membutuhkan pemikiran. Pilih buku yang memberi inspirasi.

8. Rasakan tubuh Anda
Ketika sudah berbaring di tempat tidur, tutup mata dan rasakan tubuh Anda. Dengan cara itu, Anda membawa perhatian ke tubuh. Jika ada ketegangan di bagian tubuh tertentu, bawa rileks daerah itu.

9. Perhatikan napas sampai tertidur
Tindakan ini bisa membantu, mengingat Anda masih berbaring di tempat tidur. Diam-diam amatilah napas. Saat itu aktivitas metabolisme berada dalam keadaan lambat, sama seperti ketika kita tidur nyenyak.

Labu Siam Redam Hipertensi

March 17th, 2010

JAKARTA, KOMPAS.com — Air perasan labu siam ternyata bermanfaat. Tekanan darah Trisno dan Endang yang semula melonjak bisa kembali ke angka normal. Padahal, hanya lima hari, setiap pagi dan sore, mereka minum air perasan labu itu.
Trisno (49) dan Endang (43) sama-sama pengidap hipertensi. Tanpa obat, tekanan darah Trisno mencapai 240/130 mmHg, sedangkan Endang 205/120.

Dengan obat antihipertensi generik, tensi pria kelahiran Wonosobo dan wanita asal Purwokerto, Jawa Tengah, ini turun ke angka 160/100 mmHg saja. Meski pengusaha mebel itu sudah berobat ke mana-mana dan berbagai tanaman obat telah dicoba, hasilnya tetap sama.

Pada awal Januari lalu, seorang pelanggan mereka menganjurkan untuk minum perasan air labu siam. Resepnya, satu labu siam segar diparut, lalu diperas dan air perasannya diminum setiap pagi dan sore.

Setelah lima hari, tekanan darah mereka turun menjadi 140/80 mmHg. Hingga kini, keluhan gangguan hipertensi, seperti sakit di belakang leher, sering pusing, dan merasa lemas tak pernah lagi mereka alami. “Dokter hanya memberikan 2 x 1/2 tablet captopril 25 mg per hari untuk menjaga agar tensi kami tidak naik lagi,” kata Trisno.

Siapa tak kenal labu siam? Dalam kehidupan sehari-hari, labu siam dikenal sebagai sayuran buah yang menyehatkan. Buahnya bisa dimasak sayur lodeh, oseng-oseng, atau sayur asam. Pucuk batang dan daun mudanya biasa dibuat lalap sebagai teman makan nasi.

Di Meksiko, umbi yang berumur setahun dijadikan makanan lezat setelah direbus. Tak heran, tanaman yang di Jawa Tengah dikenal sebagai labu jipang, manisah (Jawa Timur), waluh siam (Jawa Barat), dan di dunia internasional biasa disebut chayote ini dijadikan cadangan pangan bagi penduduk Meksiko.

Tumbuhan ini ditanam orang di ladang atau di halaman rumah. Tumbuhan bernama Latin Sechium edule reinw ini batangnya menjalar dan melilit sehingga perlu ditanam berdekatan dengan pohon lain atau disediakan punjung-punjung agar batangnya dapat melilit. Tanaman ini asli Amerika Selatan, daunnya berbentuk lekuk tangan, sedangkan buahnya berbentuk genta.

Efek diuretik
Menurut Sudarman Mardisiswojo dalam buku Cabe Puyang Warisan Nenek Moyang, tanaman yang di Manado bernama ketimun jepang ini, buahnya mengandung vitamin A, B, C, niasin, dan sedikit albuminoid. Karena bersifat dingin, jika dimakan terasa sejuk dan dingin di perut.

Dr Setiawan Dalimartha, Ketua II PDPKT (Perhimpunan Dokter Indonesia Pengembang Kesehatan Tradisional Timur), menyebut daging buahnya terdiri dari 90 persen air, 7,5 persen karbohidrat, 1 persen protein, 0,6 persen serat, 0,2 persen abu, dan 0,1 persen lemak. Juga mengandung sekitar 20 mg kalsium, 25 mg fosfor, 100 mg kalium, 0,3 mg zat besi, 2 mg natrium, serta beberapa zat kimia yang berkhasiat obat.

“Buahnya mengandung zat saponin, alkaloid, dan tannin. Daunnya mengandung saponin, flavonoid, dan polifenol,” kata Dr Setiawan.

Dalam buku Cabe Puyang Warisan Nenek Moyang, Sudarman hanya menjelaskan bahwa buah tanaman ini baik untuk menyembuhkan gangguan sariawan, panas dalam, serta menurunkan demam pada anak-anak karena mengandung banyak air.

Maksudnya, tidak ada penjelasan kandungan mana yang bisa meredakan darah tinggi.
Dr Setiawan menduga, selain bersifat diuretik (peluruh air seni), kandungan alkoloidnya juga bisa membuka pembuluh darah yang tersumbat. Oleh sebab itulah, labu siam bisa menurunkan darah tinggi.

Seperti diketahui, melalui air seni yang banyak terbuang akibat sifat diuretik dari labu siam, kandungan garam di dalam darah pun ikut berkurang. Berkurangnya kadar garam yang bersifat menyerap atau menahan air ini akan meringankan kerja jantung dalam memompa darah sehingga tekanan darah akan menurun.

Sementara itu, R Broto Sudibyo, Ketua Sentra Pengembangan dan Penerapan Pengobatan Tradisional Yogyakarta, menyarankan pasien dengan gangguan asam urat di Klinik Obat Tradisional RS Bethesda, Yogyakarta, mengonsumsi labu siam. Menurut dia, air labu siam memiliki efek diuretik yang baik sehingga melancarkan buang air kecil. Dengan begitu, kelebihan asam urat bisa segera dikeluarkan dari dalam tubuh.

Selain penderita asam urat, R Broto menjelaskan, penderita kencing manis juga cocok mengonsumsi labu siam yang telah dikukus. Kandungan patinya mengenyangkan sehingga penderita diabetes melitus tak lagi mengonsumsi makanan pokok secara berlebihan.

Namun, R Broto mengingatkan, ramuan labu siam tak cocok diberikan kepada penderita rematik lantaran sifat dinginnya malah memicu munculnya gejala sakit.

Bayi Dilahirkan untuk Menari?

March 17th, 2010

WASHINGTON, KOMPAS.com – Riset menunjukkan, bayi memberikan respon terhadap irama dan tempo musik dan itu lebih menarik dibanding perkataan. Temuan itu, yang dilandasi studi pada bayi yang berusia antara lima bulan dan dua tahun, menunjukkan bayi mungkin dilahirkan dengan kecenderungan untuk bergerak secara berirama sebagai reaksi terhadap musik.

Penelitian itu dilakukan oleh Marcel Zentner, dari University of York’s Department of Psychology, dan Tuomas Eerola, dari Finnish Center of Excellence di Interdisciplinary Music Research di University of Jyvaskyla. Riset dipublikasikan dalam jurnal Proceedings of National Academy of Science.

Dalam riset ini, bayi-bayi diperdengarkan bermacam rangsangan audio termasuk musik klasik, detak berirama dan perkataan. Gerakan spontan mereka direkam oleh video dan teknologi penangkap gambar tiga dimenasi dan dibandingkan pada seluruh stimulus yang berbeda. Riset ini juga melibatkan penari ballet profesional guna menganalisis sejauh mana bayi menyesuaikan gerakan mereka dengan musik.

“Penelitian kami menunjukkan bahwa irama menghasilkan reaksi pada bayi dan bukannya bentuk lain musik seperti melodi. Kami juga mendapati bahwa makin baik anak dapat menyelaraskan gerakan dengan musik, makin lebar mereka tersenyum. Namun masih harus dimengerti mengapa manusia telah mengembangkan kecenderungan khusus ini,” Zentner.

Satu kemungkinan ialah itu adalah sasaran seleksi alam bagi musik atau itu telah berkembang bagi beberapa fungsi lain yang baru saja terjadi hingga sejalan dengan prosesi musik,” katanya.

Tanda-tanda Stres pada Kulit

March 16th, 2010

JAKARTA, KOMPAS.com — Orang urban biasanya tidak begitu menghargai relaksasi karena kita sering merasa bersalah apabila tidak produktif. Padahal, membiarkan ketegangan berkepanjangan akan mempercepat kerja seluruh sistem Anda dan menghasilkan kondisi-kondisi yang bisa membuat orang muda mengalami gejala khas orang lanjut usia.

Kebanyakan dari kita akan mengelak jika disebut stres. Mulut mungkin bisa mengingkarinya, tapi tidak demikian dengan kulit Anda. Untuk memeriksa tingkat stres Anda, simaklah tanda-tanda yang dinyatakan oleh kulit.

1. Kulit kering
“Stres yang kronis akan meningkatkan kadar hormon kortisol yang bisa merusak kemampuan kulit menahan air,” kata Peter Elias, MD, ahli kulit dari University of California, Amerika Serikat. Akibatnya, kulit akan kehilangan kelembabannya dan menjadi kusam.

2. Kerutan halus
Kortisol, si hormon stres, juga akan meningkatkan kadar gula darah yang bisa merusak kolagen dan elastin, protein serat yang membuat kulit kenyal dan lembut. Ketegangan otot di wajah karena stres juga bisa membuat kerut-kerut menetap.

3. Kemerahan
Meningkatkan sirkulasi darah yang terjadi ketika kita sedang berada dalam tekanan bisa memperlebar pembuluh kapiler. Stres juga akan memicu rona kemerahan yang disebut rosacea. Dan, karena stres akan melemahkan sistem imun, semburat kemerahan di wajah ini mungkin akan menetap cukup lama.

4. Jerawat
Jerawat adalah gangguan kulit yang ditandai dengan tumbuhnya bintil-bintil kecil akibat tersumbatnya pori-pori kulit. Jerawat terjadi ketika folikel rambut pada kulit mengalami penyumbatan. Stres juga akan meningkatkan peradangan yang menyebabkan folikel rambut tersumbat.

5. Mata lelah
Kecemasan akan menghasilkan reaksi berantai; membuat mata sulit terpejam pada waktu malam dan menyebabkan mata bengkak sehingga esoknya penampilan wajah Anda terganggu oleh mata yang terlihat lelah dan kuyu.

Spiritualitas bagi Orang Sakit

March 16th, 2010

JAKARTA, KOMPAS.com — “Manusia tidak akan binasa oleh penderitaan. Namun, ia dibinasakan oleh penderitaan yang tanpa makna.” (Victor Frankl)

Gaya hidup sehat belum menjadi milik semua orang. Akibatnya, berbagai penyakit mengakrabi sebagian dari kita. Betapa banyak penyakit yang populer saat ini, seperti tekanan darah tinggi, stroke, jantung, diabetes, hepatitis, demam berdarah, cacar air, gagal ginjal, kanker, HIV/AIDS, dan flu burung.

Belum lagi penyakit-penyakit langka, seperti burger’s disease yang diderita oleh Danny Hoffmann (pelatih bulu tangkis) atau multiple sclerosis (MS) yang diderita oleh “Pepeng” Soebardi, dan sebagainya.

Sakit adalah konsep abstrak yang menunjuk adanya sensasi luka yang sifatnya pribadi (privat, personal) atau suatu stimulus berbahaya yang saat ini atau pada masa mendatang merusak jaringan tubuh.

Akibat dari stimulus sakit itu tentu saja tidak nyaman. Khususnya pada penderita penyakit akut, biasanya mereka mengalami perasaan-perasaan negatif, seperti gelisah, bingung, tidak nyaman, dan menjadi sensitif.

Dalam kesempatan wawancara yang dilakukan oleh penulis terhadap beberapa orang yang pernah sakit serius (dirawat di rumah sakit), muncul berbagai ungkapan yang menunjukkan gambaran perasaan yang menyertai sakitnya itu.

Salah seorang mengatakan, “Orang sakit itu kan bukan hanya fisiknya. Seperti orang stroke itu bukan hanya fisiknya, tetapi ditambah lagi perasaan minder.”
Yang lain bilang, “Orang kalau sakit itu seakan-akan sakitnya paling hebat. Butuh dilayani….”

Yang lain lagi mengatakan, “Orang sakit itu hatinya semakin peka, perasaannya peka.” Ada yang sekadar mengatakan, “Sakit itu kan enggak enak….” Selebihnya mengatakan, “Yang aku inginkan adalah bagaimana perasaanku bisa tenang.”

Pengalaman subyektif
Sakit merupakan pengalaman subyektif yang sulit dimengerti oleh orang lain, termasuk perawat. Hal ini digambarkan Copp (Baylor, 1982) dari hasil surveinya. Ia melaporkan, banyak pasien merasa bahwa para perawat tidak peduli terhadap respons sakit pasien.

Peneliti lain, Taylor, menyatakan bahwa pasien di rumah sakit menunjukkan gejala-gejala psikologis, terutama kecemasan dan depresi, sehingga tidak menutup kemungkinan kondisi psikologis ini justru akan memperparah sakit mereka.

Petrie (Baylor, 1982) melihat kenyataan adanya berbagai persepsi mengenai pengalaman sakit, ia mengembangkan gagasan membedakan individu sebagai augmenters atau reducers.

Augmenters adalah orang yang membesar-besarkan pengalaman sakit dan sebaliknya reducers adalah orang yang menganggap ringan pengalaman sakit. Perawat ataupun pasien, ada yang termasuk augmenters, ada yang reducers.

Kombinasi augmenters dan reducers pada perawat dan pasien dapat menghasilkan komplikasi dalam menjajaki dan menangani pasien dengan pengalaman sakit.
Meski umumnya kondisi sakit dirasa tidak menyenangkan, banyak pasien yang melaporkan bahwa pengalaman sakit dapat bernilai atau merupakan peristiwa yang bermakna.

Baylor mengutip pandangan seorang humanis, Joyce Travelbee, bahwa sakit dan penderitaan dapat menjadi aktualisasi diri jika seseorang dibantu untuk menemukan makna dalam pengalaman sakitnya.

Kok bermakna?
Banyak kisah sedih mengenai orang sakit. Khususnya mereka yang mengalami penyakit bertahun-tahun, penderitaan itu tentu dirasa tak kunjung selesai. Selain ada rasa sakit, ketidaknyamanan juga terjadi karena aktivitas fisik dan mental terhambat. Belum lagi jika kehilangan pekerjaan, kehilangan bagian tubuh tertentu karena penyakit diabetes, burger’s disease, dan sebagainya.

Tak jarang pasien putus asa hingga bunuh diri. Namun, kita pun tahu ada orang-orang yang mampu bertahan dan tetap optimistis menghadapi penyakit berat. Sungguh kita pantas memberikan acungan jempol, bahkan standing ovation.

Pentingnya spiritualitas
Spiritualitas adalah kata kunci yang membuat seseorang menemukan makna hidupnya. Tidak ada definisi yang mutlak untuk spiritualitas. Meski begitu, seorang penulis pada jurnal kesehatan di Inggris mencoba merangkum esensi spiritualitas dalam konteks kesehatan sebagai berikut:

“Spiritualitas adalah suatu kualitas yang melebihi afiliasi religius, yang membangkitkan inspirasi, penghormatan, perasaan kagum, makna, dan tujuan…. Dimensi spiritualitas meliputi usaha untuk menjaga harmoni dengan alam semesta dan berusaha keras menemukan jawaban-jawaban atas sesuatu yang tak terbatas dan menemukan fokus ketika seseorang menghadapi tekanan emosional, sakit fisik, dan kematian.” (Foster, 2005).

Spiritualitas berkaitan erat dengan komitmen religius. Sejumlah studi menemukan kaitan antara komitmen religius dan keadaan tak sehat (morbidity, mortality) pada pasien dengan berbagai penyakit.

Di antara orang yang lebih sering mengunjungi tempat berdoa, jumlah kematian lebih sedikit dibandingkan yang tidak pernah mengunjungi tempat pelayanan doa (Puchalsky, 2001). Hal ini menunjukkan bahwa spiritualitas atau komitmen religius sangat bermanfaat untuk kesehatan penderita sakit.

Puchalsky, praktisi dari George Washington University Medical Center, juga mengemukakan adanya hasil survei yang menunjukkan bahwa spiritualitas sangat penting bagi pasien. Kebanyakan pasien menginginkan dokter yang merawat mendiskusikan tentang keyakinan spiritual dengan mereka.

Hasil survei tersebut tampak sesuai dengan kenyataan. Banyak orang yang justru menemukan makna hidupnya melalui pengalaman sakit. Hal tersebut tampaknya terjadi karena mereka yang sakit, seperti halnya orang lain yang sedang menghadapi penderitaan atau kesulitan hidup lainnya, membutuhkan jawaban atas kondisi mereka yang terbatas. Mereka merindukan jawaban atas masalah yang tidak sanggup dihadapi sendiri dengan keterbatasannya.

Menemukan fokus
Dalam kondisi tak seimbang dengan penyakit yang diderita, seseorang dihadapkan pada kenyataan untuk menjaga harmoni dengan alam semesta, berusaha keras menemukan jawaban atas sesuatu yang tak terbatas, dan menemukan fokus ketika menghadapi tekanan emosional, sakit fisik, dan kematian.

Dari sini akhirnya lahirlah inspirasi, perasaan hormat dan kagum akan kehidupan, perasaan akan makna dan tujuan. Itulah spiritualitas yang berkembang dalam keadaan sakit!

Mengapa mereka berhasil menemukan spiritualitas semacam itu? Satu hal yang perlu disimak dalam kisah para tokoh publik di atas ialah bahwa dalam ketidakberdayaan itu mereka menemukan cinta yang sangat besar, terutama dari orang-orang terdekat, dan juga perhatian dari orang-orang lain yang mengenal mereka.

Cinta inilah yang merupakan sumber spiritualitas mereka. Cinta inilah yang memberikan inspirasi bagi mereka untuk tetap bertahan hidup, menemukan kekuatan, makna, dan tujuan.

Pada akhirnya kita dihadapkan pada pertanyaan: bagaimana nasib mereka yang tidak mendapatkan cinta sebesar itu? Mereka berharap dapat menemukan spiritualitas dari para dokter atau orang lain yang merawatnya.

Ketika tak ada jawaban dari mereka, mari kita berusaha lebih solider dengan mereka yang sakit dalam keadaan terpencil, kesepian, tanpa orang lain yang mengasihi.

Anak Kanker Butuh Kalori dan Protein Tinggi

March 16th, 2010

JAKARTA, KOMPAS.com – Bagi anak yang menderita kanker, makanan dibutuhkan sebagai bagian dari terapi suportif. Selain bersih dan tidak tercemar kuman, anak butuh makanan tinggi kalori dan tinggi protein dengan pola gizi seimbang.

Pola gizi seimbang tak hanya diperlukan untuk pertumbuhan anak, tetapi juga penting bagi anak yang menderita kanker. Pada beberapa pasien kanker anak memang tidak ditemukan masalah dengan makan selama perawatan. Mereka masih dapat makan dengan cukup untuk memperoleh nutrisi yang diperlukan. Namun, sebagian pasien mengalami kesulitan makan, sehingga berat badannya turun dan pertumbuhannya terganggu.

Menurut Dr. Djajadiman Gatot, Sp.A(K), konsultan onkologi anak dari FKUI/RSCM, bila anak mengalami susah makan, perlu dilihat terlebih dahulu penyebabnya. “Kalau disebabkan oleh efek dari obat kemoterapi, biasanya akan diberikan obat penghilang rasa mual,” ujar dokter berusia 61 tahun ini. Rasa mual memang kerap terjadi pada pasien yang mendapat kemoterapi.

Tidak Memberi Vitamin
Pada anak dengan kanker, pemberian makanan diperlukan untuk membantu mencapai pertumbuhan normal dan penambahan berat badan, serta mencegah terjadinya masalah yang kemungkinan akan terjadi.

Berbeda dengan anak-anak sehat, pasien kanker anak tidak dianjurkan mengonsumsi vitamin. Dikhawatirkan, vitamin yang diberikan justru diambil oleh sel kankernya. “Sel leukemia terutama sangat rakus dan aktif,” ujar Dr. Djajadiman.

Susu dan makanan yang cukup energi bisa diberikan. Dalam buku Immunity Foods for Healthy Kids, Lucy Burney menyarankan agar makanan utama dan kudapan ringan, dalam jumlah sedikit, lebih sering diberikan kepada anak yang sedang dalam pengobatan kemoterapi. Makanan tersebut sebaiknya tinggi protein nabati, serat larut air dan asam lemak esensial demi membantu keseimbangan zat gizi dalam tubuh.

Di sisi lain, anak yang mendapat pengobatan dengan menggunakan steroid cenderung mempunyai efek menahan air, yang kemudian akan menambah berat badan. Bagi anak dengan kanker, sangat disarankan diet tinggi sayur dan buah karena akan membantu mengeluarkan kelebihan air.

Asam lemak sebaiknya dihindari. Sebaliknya, anak bisa diberikan makanan yang mengandung gandum, ikan, kedelai, kacang-kacangan, dan lain-lainnya. Makanan ringan yang diberikan sebaiknya terdiri dari buah dan sayur.

Serat yang diperoleh dari buah dan sayur akan membantu menyeimbangkan kadar glukosa darah serta membantu mengeluarkan racun dan zat karsinogen dari tubuh. Memasukkan brokoli dalam menu harian anak juga bisa dilakukan, mengingat sayur ini mengandung komponen yang bersifat antikarsinogenik.

Makanan kaya vitamin C mempunyai efek memperbaiki. Vitamin C digunakan untuk membuat kolagen yang memperkuat membran sel, sehingga membantu menghentikan pembelahan sel kanker.

Jangan Memaksa Makan
Orangtua perlu memastikan anaknya yang menderita kanker memperoleh zat gizi yang baik. St. Jude Children’s Research Hospital memberikan anjuran sebagai berikut:
– Pasien kanker cenderung mengonsumsi sedikit makanan saat masa siklus perawatan, tetapi akan membaik di antara siklus tersebut. Dorong anak untuk mengonsumsi makanan lebih banyak saat mereka dalam kondisi membaik.
– Kadangkala anak terlalu sakit untuk makan atau minum berlebihan. Pada saat itu, secara rutin tawarkan makanan atau minuman yang disukainya. Hal ini akan membantu anak menambah energi.
– Ingatkan anak saat tiba waktunya makan, tetapi jangan memaksanya.
– Berikan makanan yang diminta. Namun, jika makanan yang diinginkan tidak bisa diperoleh dalam satu jam, jangan habiskan waktu untuk mencarinya. Biasanya nafsu makan anak sudah turun setelah periode itu.
– Langkah terbaik adalah tidak memaksa anak untuk makan, terutama yang masih kecil. Sebab, mereka cenderung melakukan hal yang berlawanan dari yang Anda inginkan.
– Alasan di balik kebutuhan zat gizi yang baik bisa dijelaskan kepada anak yang sudah besar. Mereka juga bisa dilibatkan dalam memenuhi kebutuhan gizinya setinggi mungkin.

Waktu Terbaik Mengonsumsi Vitamin

March 15th, 2010

JAKARTA, KOMPAS.com — Ada yang mengatakan, vitamin sebaiknya dikonsumsi pada pagi atau malam hari. Ada juga yang mengatakan, sebaiknya konsumsi vitamin disertai makanan padat.

Menurut Barbara Paulsen, Pemimpin Redaksi Majalah Health, konsumsi vitamin boleh dilakukan kapan saja begitu kita ingat. Sebab, hanya sedikit perbedaan manfaat yang diperoleh jika mengonsumsi vitamin secara teratur.

Bagi mereka yang ingin mengonsumsi vitamin secara teratur, ada baiknya menyimak beberapa tip di bawah ini:

* Konsumsi vitamin bersama makanan untuk membantu proses penyerapan oleh tubuh.

* Pil zat besi berdampak keras bagi perut. Untuk mengurangi dampak yang ditimbulkan, ada baiknya mengonsumsi pil zat besi bersama makanan.

* Saat ini vitamin E kebanyakan bersalut lemak. Untuk memperoleh manfaat lebih besar, konsumsilah bersama cairan berlemak, seperti segelas susu.

* Lebih baik mengonsumsi kalsium berdosis 300 mg atau kurang dibandingkan dengan mengasup kalsium dalam jumlah besar sekaligus. Ada baiknya menambah dosis 10 persen jika mengonsumsi kalsium bersama makanan atau biji-bijian karena bisa menahan proses penyerapan oleh tubuh.